Duh, lagi-lagi dapat inspirasi dan motivasi dari bidang kuliner. Sungguh, di luar rencana betulan. Jadi, ceritanya saya menuju jalan pulang. Malam sudah jam 21.15. Habis dari kantor soalnya ada klien Tes Bakat Sidik Jari. Perut belum keisi malam ini (Walaupun itu sebenarnya buruk, baik menurut Rasul ataupun menurut ilmu kesehatan... Dari yang saya baca selama ini). OK, jadi saya berpikiran untuk sekalian cari makan. Dari sepanjang Ketintang sampai rumah saya, seingat otak ini nggak ada makanan asik deh. Apalagi malam gini.
Nah, pas sudah di Jl. Gunungsari, setelah belokan jembatan Rolak dari arah Karah (Yang saya selalu keliru menganggap itu sebagai Pagesangan) Anda pasti tahu kan ada beberapa penjaja sate kol di situ, di pinggir jalan, mepet pagar kawat area dam Rolak. Biasanya sih jam segitu sudah nggak ada. Lha kok kebenaran masih ada. Ya sudah, akhirnya saya putuskan buat beli sate kol saja. Pikir saya ntar dimakan di rumah sama nasi kan ya enak seh?
Waktu saya mau beli, si bapak sudah senyam-senyum saja. Barangkali bahagia ada pembeli mampir. Saya lihat beliau sedang mengunyah. Lalu dihentikannya kegiatan makan malamnya. Sejenak dia sibuk, nggak sibuk-sibuk amat juga, karena satenya sudah dipacking masing-masing sepuluh per plastik. Bumbunya juga sudah diplastik, jadi ya nggak sampai 2 menit transaksi selesai. Pas saya sudah mau naruh sate kol di cantelan motor, dengan polos dan tulus si bapak bilang ke saya, "Monggo mas, nedho." Tahu artinya? "Mari mas, makan."
Yaa Allah si bapak ini bikin saya kagum. Di tengah kebersahajaannya beliau tetap ramah dan tak lupa menawari makan sederhananya: nasi bungkus dan (saya melirik) es jeruk di plastik komplit dengan sedotan kuning yang dicantelkan di setang sepeda untilnya (Sepeda Until itu istilah anak saya yang kecil untuk sepeda pancal alias sepeda angin).
Saya bilang, "Matur suwun pak, monggo." Sambil berlalu diliputi kekaguman yang menimbulkan spontanitas harapan juga do'a buat si bapak, semoga selalu diberi rejeki berkah oleh-Nya. Itu juga membuat saya bersyukur bahwa malam-malam seperti itu tidak perlu duduk menunggu di tepi jalan ramai, untuk beroleh sedikit nafkah. Artinya, bahwa nasib saya, nasib Anda juga masih jauh lebih baik. Makanya, jika melihat orang-orang seperti bapak penjual sate kol itu, jangan lupa bersyukur, buat beliau yang masih tetap setia menjalani profesinya, juga buat Anda yang punya kehidupan lebih baik.
Akhir tulisan, sate kol yang saya beli jadi nikmat sekali dimakan di rumah. Disiram pakai kuah kare kambing sisa tadi siang yang ternyata habis dilahap sama anak-anak. Maklum, isinya daging sama lidah.
No comments:
Post a Comment